
Dahulu kala di Kerajaan Kediri terdapat
sebuah wilayah yang masih sangat jarang penduduknya. Wilayah tersebut berada di
bagian utara kerajaan Kediri dan berada di bawah kekuasaan Adipati Cakra. Wilayahnya
begitu asri dan subur. Sebagian besar penduduknya bercocok tanam mengolah sawah.
Pada suatu hari, Adipati Cakra membuat
keputusan yang tidak biasa. Beliau memutuskan seluruh pegawai di pemerintahannya
baik di kadipaten maupun di pelosok desa tidak diberi ganjaran berupa uang
melainkan sawah garapan.
Adipati :
“Mulai sekarang setiap pegawai di wilayahku, baik di kadipaten maupun di
bawahnya akan menerima sawah garapan sebagai upah pengabdiannya.”
Punggawa : “Baik, Gusti Adipati.”
Adipati :
“Apakah ada yang ingin bertanya tentang hal ini?”
Punggawa :
“Mohon maaf gusti, mengapa gusti mengambil keputusan tersebut?”
Adipati : “Wilayah kita itu sangat subur dan asri, namun jika tidak semua orang ikut mengolah
dan menjaganya, maka lambat laun kesuburan dan keasriannya akan sirna. Oleh
karena itu, aku ingin semua orang ikut menjaga kelestariannya. Apakah kalian sudah paham?”
Punggawa :
“Sudah gusti.”
Adipati :
“Sampaikan keputusanku ini kepada seluruh pegawai di wilayahku!”
Punggawa : “Baik, Gusti.”
Setelah mengumumkan keputusannya tersebut,
Adipati Cakra pergi mengunjungi wilayahnya di sebelah utara. Wilayah tersebut
sangat subur dan banyak sekali tanaman padi yang mulai menguning.
Pada saat Adipadi Cakra berkunjung ke tempat
itu, warga sekitar menyediakan minuman berupa air jernih yang ditampung di
sebuah tempayan yang berupa genuk dari batu. Beliau merasa sangat nyaman berada
di tempat itu, di bawah pohon beringin yang rindang dengan minuman yang begitu
segarnya. Oleh karenanya beliau terkesan dan memberikan nama tempat itu Genuk
Watu.
Warga :
“Mangga, silahkan diminum Gusti!”
Adipati :
“Waah, segarnya air ini! Tempat ini sangat asri hingga membuat siapa pun betah
berlama-lama di sini.”
Warga :
“Terima kasih, Gusti!”
Adipati :
“Wargaku semua, karena air dari genuk ini sangat segar, maka aku beri nama
tempat ini, Genuk Watu.”
Setelah memberi nama tempat itu, Sang Adipati
beranjak ke arah barat laut. Beliau begitu terkesima karena sejauh mata
memandang, keasrian dan kesuburan yang nampak. Hingga beliau tidak sadar telah
berjalan cukup jauh. Beliau akhirnya melihat ada segerombol rumah di antara
sawah-sawah itu. Hanya ada tujuh rumah. Tempatnya begitu jauh dari rumah warga
yang lain. Sehingga Sang Adipati memerintahkan penduduk tersebut untuk pindah
dan berkumpul dengan rumah-rumah lainnya. Ternyata, salah satu pemilik rumah
tersebut adalah seorang demang yang bernama Demang Kabul. Demang tersebut
adalah Demang pertama di wilayah itu.
Adipati :
“Kula nuwun, permisi!”
Demang :
“Iya, silahkan! Oh Gusti Adipati! Ada apa Gusti?”
Adipati :
“Begini, rumah ini kok terpencar dari warga lain. Alangkah baiknya kalian
pindah saja ke sebelah timur sana. Berkumpul dengan warga yang lainnya.”
Ki Demang merasa keberatan mendengar titah
Sang Adipati. Sehingga dia menentang perintah sang Adipati. Terjadilah
percapakan yang memanas.
Demang :
“Mohon maaf, Gusti! Mengapa saya harus pindah? Ini tanah saya sendiri!”
Adipati :
“Begini, memang betul ini milikmu, tetapi alangkah baiknya jika kalian
berkumpul dengan warga yang lain yang ada di Genuk Watu. Hubungan kalian akan
lebih guyub.”
Demang :
“Baiklah kalau itu kemauan Gusti, tapi…..”
Adipati :
“Tapi apa?”
Demang :
“Kami punya syarat yang harus Gusti penuhi.”
Adipati :
“Apa itu?”
Demang :
“Karena wilayah kami ini bernama Ketanggungan, maka kami ingin desa itu harus
berubah nama menjadi Nanggungan.”
Adipati :
“Baiklah, aku turuti permintaanmu. Mulai saat ini desa tersebut saya beri nama
Desa Nanggungan.”